Latest Entries »

Panduan KML PENEGAK

PANDUAN TEKNIK PENYAJIAN MODUL

KURSUS PEMBINA PRAMUKA MAHIR TINGKAT LANJUTAN (KML)

JURUSAN PENEGAK

 

  1. I.       Pendahuluan

 

Panduan ini dibuat karena masih banyak penyelenggaraan kursus yang setiap topik atau setiap pokok bahasan dilakukan selalu dengan metode ceramah, peserta hanya berperan sebagai pendengar, sehingga hasilnya ketika kursus berakhir mereka tidak memiliki keterampilan yang memadai untuk membina gugusdepan. Oleh karena itu hampir keseluruhan materi pembelajaran dilaksanakan dengan praktek langsung.

 

Panduan teknis penyajian modul Kursus Pembina Pramuka Mahir Tingkat Lanjutan (KML) disusun dalam rangka standarisasi pola penyajian modul KML, dengan harapan dapat menjadi panduan Lanjutan bagi Pelatih Pembina Pramuka; adapun pengembangan selanjutnya  diserahkan kepada para pelatih yang bersangkutan, untuk lebih kreatif dalam mengemas keseluruhan bahan agar lebih inovatif, menarik, dan tepat sasaran.

 

  1. II.     Tujuan dan Sasaran KML

 

  1. Tujuan Kursus Pembina Pramuka Mahir Tingkat Lanjutan, disingkat KML, adalah untuk memberi bekal pengetahuan lanjutan dan pengalaman praktis membina Pramuka melalui kepramukaan dalam Satuan Pramuka yakni Perindukan Siaga, Pasukan Penggalang, Ambalan Penegak dan Racana Pandega.

 

  1. Sasaran

Peserta setelah mengikuti KML , mampu:

  1. Menjelaskan apa, mengapa, bagaimana, sasaran dan tujuan kepramukaan serta perkembangannya.
  2. Menerapkan kepramukaan secara efektif dan efisien dalam membina Pramuka sesuai dengan golongannya.
  3. Menjelaskan apa, mengapa, bagaimana sasaran dan tujuan Prinsip Dasar Kepramukaan, Metode Kepramukaan, Kode Kehormatan Pramuka, Kiasan Dasar Kepramukaan dan Motto Kepramukaan  serta menerapkannya dalam membina Pramuka sesuai dengan golongannya.
  4. Mendidikkan Prinsip Dasar Kepramukaan, Kode Kehormatan Pramuka kepada Pramuka sesuai dengan golongannya sehingga sikap dan perilakunya mencerminkan perwujudan pengamalan Prinsip Dasar Kepramukaan dan Kode Kehormatan Pramuka.
  5. Membina dan mengembangkan  mental, fisik, intelektual,  emosional dan sosial   sesuai dengan golongannya sehingga dia mampu berperan positif dalam masyarakat lingkungannya.
  6. Menerapkan Sistem Among dan menerapkan Prinsip Dasar Kepramukaan  dan Kode Kehormatan Pramuka dalam hidup bermasyarakat sehingga dirinya menjadi panutan peserta didik dan masyarakat.
  7. Menerapkan kepemimpinan  yang dijiwai  dan bersumber pada Prinsip Dasar Kepramukaan dan Kode Kehormatan Pramuka.
  8. Mengelola Program Kegiatan Peserta Didik (Prodik) sesuai dengan golongannya.
  9. Menerapkan ketrampilan komunikasi dan ketrampilan bergaul secara efektif.
  10. Memahami, serta menghayati sifat dan watak peserta didiknya dalam upaya pembentukan karakter.
  11. Mengelola satuannya.
  12. Membina dan mengembangkan sumber daya/potensi yang dimilikinya.
  13. Memahami, Menghayati  dan melaksanakan AD & ART Gerakan Pramuka.
  14. III.              Metode

Materi KML disajikan dengan pendekatan andragogi, berfokus pada pembelajaran diri interaktif progresif  dengan melibatkan peserta secara langsung dalam proses pembelajaran dengan menggunakan metode, di antaranya :

  1. Dinamika kelompok
  2. Diskusi kelompok
  3. Curah gagasan
  4. Metta Plan/Country Fair
  5. Studi kasus
  6. Kerja kelompok
  7. Demonstrasi
  8. Bermain peran
  9. Presentasi
  10. 10.  Bola salju (snow balling)
  11. 11.  Debat
  12. 12.  Fish Bowl
  13. 13.  Class students have           
  14. 14.  Simulasi
  15. 15.  Base Mathod
  16. 16.  Berbagai kegiatan praktek (kesiagaan, kepenggalangan, kepenegakan, kepandegaan, scouting skill, dan permainan).
  17. 17.  Open Forum         
  18. Rencana Tindak lanjut (RTL)/Action Plan

 

 

  1. IV.              Rencana Pembelajaran

Dalam menyusun rencana pembelajaran pendekatan yang digunakan adalah andragogi, strategi pembelajaran dilakukan dengan cara “Do-Look-Learn”, untuk itu diperlukan  petunjuk pelaksanaan pembelajaran yang sesuai dengan materi sajian yang ada berupa persiapan pembelajaran oleh pelatih (format terlampir) dan petunjuk pembelajaran bagi peserta kursus (format terlampir).

Pada akhir pertemuan sesi, pelatih mengadakan sharring dengan tujuan mengadakan pembulatan/pencerahan berupa kesimpulan.

 

  1. V.                 Strategi pembelajaran
  2. Strategi pembelajaran dilaksanakan dengan tata urut sebagai berikut:
    1. Pelatih menciptakan suasana belajar sesuai dengan topik sajian yang ada.
    2. Peserta memahami petunjuk pembelajaran yang diberikan.
    3. Proses pembelajaran dilakukan sesuai dengan petunjuk pembelajaran.
    4. Peserta memperoleh temuan-temuan dari proses pembelajaran tersebut.
    5. Sharring atas temuan-temuan yang ada.
    6. Pembulatan/pencerahan/kesimpulan.

 

  1. Pembagian waktu penyajian pada setiap Pokok Bahasan:
    1. Pengantar dan penjelasan materi untuk pemahaman konsep  (ceramah)   : 20 %;
    2. Kegiatan praktek/simulasi/demonstrasi/ kerja kelompok atau mandiri       : 70 %;
    3. Pembulatan/pencerahan/kesimpulan                                                            : 10%;
    4. Satu jam pelajaran = 45 menit

 

  1. Dalam KML kepada peserta dikenalkan praktek kegiatan Kepenegakan secara lebih mendalam untuk memenuhi kecakapan sebagai Pembina Mahir Penegak.

 

  1. Dalam KML Penegak keseluruhan materi pembelajaran dilaksanakan di alam terbuka dalam bentuk perkemahan.

 

 

  1. VI.  Pendukung Proses Belajar Mengajar dengan pendekatan Andragogi
  2. Sarana Prasarana:
    1. Ruang belajar yang bersih, sehat, terang dan sepadan dengan kapasitas.
    2. Alat bantu pembelajaran yang memadai kuantitas dan kualitas.
    3. Tersedianya alam terbuka untuk kegiatan outdoor.
    4. Terjaminnya keamanan dan peralatan keamanan pelatihan yang terstandar.
  3. Adanya bahan serahan.
  4. Suasana pendukung proses pembelajaran: terhindar dari gangguan kegaduhan, polusi udara.
  5. Alunan musik yang dapat membangkitkan semangat belajar.

 

  1. VII.            Rencana Tindak Lanjut
  2. Rencana Tindak Lanjut (RTL) disusun oleh peserta pada tahapan terakhir pelaksanaan kursus sebagai motivator pada diri mereka sendiri untuk  melakukan   kegiatan   tindak lanjut setelah mengikuti pelatihan.
  3. RTL juga berfungsi sebagai pendorong peserta pelatihan untuk mengikuti program masa pengembangan/narakarya 2 oleh kwartir, yang akan menjadi persyaratan untuk mengikuti pelatihan berikutnya (Kursus Pembina Pramuka Mahir Tingkat Lanjutan/KML).

VIII.Penutup

Dengan disusunnya panduan ini diharapkan Pelatih dapat memiliki pola penyajian modul KML, selanjutnya kepada para pelatih dapat mengembangkannya sesuai dengan kebutuhan. 

 

 

 

 

 

 

 

 


KURIKULUM KML PENEGAK

 

Kurikulum KML disusun sebagai berikut :

a.   BABAK    PENGANTAR

       Modul 1 PENGANTAR ………………………………………………………………

1.1.  Upacara Pembukaan Kursus ………………………………………………

1.2.  Orientasi Kursus  …………………………………………………………….

1.3.  Dinamika kelompok  …………………………………………………………

1.4.  Pengembangan Sasaran Kursus …………………………………………                       

 

 

 

5  Jampel

1  jampel

2  jampel

1  jampel

1  jampel

b.   BABAK INTI

Modul 2 : KEPRAMUKAAN, DAN PRINSIP DASAR

2.1.   Kepramukaan merupakan pendidikan progresif sepanjang hayat …………………………………………………………………………..

2.2.   Prinsip Dasar Kepramukaan sebagai Norma Hidup Anggota GP

2.3.   Penghayatan Metode Kepramukaan Sebagai Suatu Sistem ……

2.4.   Pemahaman Tentang Dewan Kerja ………………………………….

 

 

5   jampel

 

1   jampel

1   jampel

1   jampel

2   jampel

Modul 3 : CARA MENANAMKAN KEDISIPLINAN & MENYUSUN PROGRAM

3.1.   Cara menanamkan kedisiplinan pada peserta didik ……………..

3.2.   Cara menyusun program kegiatan peserta didik …………………

3.3.   Cara menciptakan pendidikan kreatif rekreatif ……………………

 

5   jampel

 

1   jampel

1   jampel

3   jampel

Modul 4 : PENDIDIKAN DI ALAM TERBUKA

4.1.   Alam terbuka merupakan faktor penting dalam kepramukaan..

4 2.   Cara berkemah ……………………………………………………………..

4.3.   Kehidupan beragama dalam perkemahan ………………………….

4.4.   Keterampilan P3K dan kesehatan lingkungan ……………………….

4   jampel

1   jampel

1   jampel

1   jampel

1   jampel

 

Modul 5 : BERBAGAI KEGIATAN SEBAGAI ALAT PENDIDIKAN

5.1.   Permainan, nyanyian, tarian, wisata, upacara, pertemuan sebagai alat pendidikan ………………………………………………….

5.2.   Diskusi (debat) sebagai alat pendidikan ……………………………..

 

3   jampel

 

2  jampel

1  jampel

 

Modul  6 : METODE

6.1.   Penerapan metode kepramukaan dan dampaknya dalam perkembangan jiwa pramuka Penegak ……………………………..

6.2.   Cara mendidikan Trisatya dan Dasadarma …………………………

6.3.   Cara menyelesaikan SKU dan mendapatkan TKU ………………..

6.4.   Cara menyelesaikan SKK dan mendapatkan TKK …………………

6.5.   Cara menyelesaikan SPG dan mendapatkan TPG ………………..

6.6.   Makna pelantikan bagi pramuka Penegak …………………………

 

10   jampel

 

1   jampel

1   jampel

2   jampel

2   jampel

2   jampel

2   jampel

Modul  7 : PERTEMUAN PRAMUKA PENEGAK

7.1.   Jenis-jenis upacara penegak …………………………………………..

7.2. Latihan di ambalan (teknik diskusi, scouting skill; semboyan isyarat, Pioneering, Ilmu Medan Peta Kompas/IMPK/ orientering, KIM, Mengenal cuaca, hasta karya, first aids, jungle survival) ……………………………………………………………………….

7.3. Perkemahan/pertemuan besar (Raimuna, gladian pemimpin satuan, Musppanitera, Latihan Pengembangan Kepemimpinan/LPK, Kursus Pengelola Dewan Kerja/KPDK, kemah bakti, Perkemahan Wirakarya/PW)…………………………

7.6.  Pengembaraan – safari camp (kegiatan mengenal dan mencintai lingkungan- hiking, rafting, rowing, climbing, mountaineering, Bivak)…………………………………………………………………………….

 

34  jampel

3    jampel

 

 

 

18  jampel

 

 

 

5   jampel

 

 

8   jampel

 

Modul  8 : ORGANISASI DAN ADMINISTRASI AMBALAN

8.1.   Organisasi dalam ambalan ………………………………………………

8.2.   Administrasi dalam ambalan ……………………………………………

5   jampel

3   jampel

2   jampel

 

c. BABAK PELENGKAP

Modul 9 :  PELENGKAP

9.1.      Pendidikan kependudukan ………………………………………….

9.2.      Pendidikan lingkungan hidup ………………………………………….

9.3.      Penyalahgunaan NAPZA ………………………………………………………

9.4.      Muatan Lokal ……………………………………………………………………..

9.5.  Materi pengembangan wawasan (Ceramah pejabat/isue penting) …………………………………………………………………………….

9.6       Jam pimpinan ………………………………………………………………………

 

13 Jampel

1  Jampel

1  Jampel

1  Jampel

4  Jampel

 

2  Jampel

4   jampel

d.   BABAK PENUTUP

      Modul 10  : PENUTUP  …………………………………………………………..

10.1.       Forum Terbuka  …………………………………….. ………………

10.2.       Rencana Tindak Lanjut (RTL) …………………… ………………

10.3.       Evaluasi  …………………………………………………………………

10.4.       Malam apresiasi budaya ………………………………………..

10.4.       Upacara Penutupan Kursus  …………………….  ………………

              

 

11   jampel

2   jampel

2   jampel

2   jampel

4   jampel

1   jampel

Jumlah  …………………………………………………………

95  Jampel

 

PP Tentang SAKA WANABAKTI

KEPUTUSAN

KETUA KWARTIR NASIONAL GERAKAN PRAMUKA

NOMOR: 05  TAHUN  1984

TENTANG

PETUNJUK PENYELENGGARAAN SATUAN KARYA

PRAMUKA WANABAKTI

                                    Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka,

Menimbang              : 1. bahwa untuk kesejahteraan hidup umat manusia pada umumnya, dan bangsa

Indonesia pada khususnya, perlu diselenggarakan kegiatan pembangunan kehutanan, pelestarian sumber daya alam dan   pemeliharaan lingkungan hidup;

                                 2. bahwa untuk keperluan itu diperlukan adanya peran serta masyarakat, termasuk Gerakan Pramuka yang merupakan wadah pembinaan generasi muda, untuk ikut serta memelihara kelestarian sumber daya alam dan lingkungan hidup;

                                 3. bahwa berdasarkan pemikiran tersebut di atas dianggap perlu untuk membentuk Satuan Karya Pramuka Wanabakti di seluruh wilayah Republik Indonesia;

                                 4. bahwa untuk kepeluan itu telah ditandatangani kerjasama antara Departemen Kehutanan Republik Indonesia dan Kwartir Nasional Gerakan Pramuka pada tanggal 27 Oktober 1983 du Jakarta, yang selanjutnya perlu ditunjang dengan adanya Petunjuk Penyelenggaraan Satuan Karya Wanabakti;

                                 5. bahwa keputusan Kwartir Nasional Gerakan Pramuka nomor 134 Tahun 1983 tentang Satuan Karya Wanabakti tidak sesuai dengan idea pembentukan Satuan Karya Wanabakti tersebut di atas dan karenanya perlau dicabut kembali.

Mengingat              : 1. Keputusan Presiden Republik Indonesia nomor 238 Tahun 1961 juncto Keputusan Presiden Republik Indonesia nomor 12 Tahun 1971 tentang Anggaran Dasar Gerakan Pramuka;

                                 2. Keputusan Presiden Republik Indonesia nomor 20 Tahun 1983 tentang Pembentukan Departemen Kehutanan Republik Indonesia;

                                 3. Keputusan Kwartir Nasional Gerakan Pramuka nomor 45/KN/74 tahun 1974 tentang Anggaran Rumah Tangga Gerakan Pramuka;

                                 4. Piagam Kerjasama antara Departemen Kehutanan Republik Indonesia dengan Kwartir Nasional Gerakan Pramuka tanggal 27 Oktober 1983;

                                 5. Keputusan Musyawarah Nasional Gerakan Pramuka nomor 02/MUNAS/83 tentang Penilaian Laporan Pertanggungjawaban Kwartir Nasional Gerakan Pramuka Masabakti tahun 1978 – 1983 dan Keputusan nomor 07/MUNAS/83 tentang Renvana Kerja Kwartir Nasional Gerakan Pramuka Masabakti tahun 1978 – 1983 dan Keputusan nomor 07/MUNAS/83 tentang Rencana Kerja Kwartir Nasional Gerakan Pramuka Masabakti Tahun 1983 – 1988.

M E M U T U S K A N:

Menetapkan          :

Pertama                  : Mencabut Keputusan Kwartir Nasional Gerakan Pramuka nomor 134 Tahun 1983 tentang Petunjuk Penyelenggaraan Satuan Karya Pramuka Wanabakti.

Kedua                    : Mengesahkan Petunjuk Penyelenggaraan Satuan Karya Pramuka Wanabakti, seperti yang tercantum dalam lampiran keputusan ini.

Ketiga                    : Menginstruksikan kepada semua Kwartir Gerakan Pramuka untuk menyebarluaskan dan melaksanakan petunjuk penyelenggaraan Satuan Karya tersebut dengan sebaik-baiknya.

Keempat                : Apabila di kemudian hari ternyata terdapat kekeliruan atau kesalahan dalam keputusan ini, maka akan diadakan pembetulan semagaimana mesetinya.

Keputusan ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan
Ditetapkan di  :  Jakarta.
Pada tanggal   :   14 Januari 1984.
Ketua Kwartir Nasional,  Letjen TNI (Purn) Mashudi


LAMPIRAN  KEPUTUSAN

KETUA KWARTIR NASIONAL GERAKAN PRAMUKA

NOMOR :  05 TAHUN 1984

PETUNJUK PENYELENGGARAAN

SATUAN KARYA PRAMUKA WANABAKTI

 

BAB I

PENDAHULUAN

Pt.  1. Umum

a. Untuk kesejahteraan hidup manusia pada umumnya dan bangsa Indonesia pada umumnya, maka perlu diadakan usaha untuk melestarikan sumber daya alam danlingkungan hidup, termasuk pelestarian danperlindungan hutan, yang merupakan sebagian besar dari isi daratan di kepulauan Indonesia.

b. Guna melaksanakan usaha tersebut di atas, diperlukan kesadaran masyarakat akan pentingnya pemeliharaan dan pelestarian sumber daya alam dan lingkungan hidup, serta peran serta masyarakat dalam kegiatan pemeliharaan dan pelestarian alam dan lingkungan hidup.

c. Gerakan Pramuka sebagai wadah pembinaan generasi muda dengan menggunakan prinsip dasar metodik pendidikan kepramukaan, dianggap merupakan kelompok masyarakat yang perlu dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan pembangunan kehutanan, pelestarian sumber daya alam, dan lingkungan hidup.

d. Satuan Karya Pramuka Wanabakti yang disingkat Saka Wanabakti, adalah wadah bagi Pramuka Penegak dan Pramuka Pandega untuk melaksanakan kegiatan nyata, produktif dan bermanfaat dalam rangka menanamkan rasa tanggungjawab terhadap pelestarian sumber daya alam dan lingkungan hidup.

e. Maksud petunjuk penyelenggaraan ini adalah untuk memberi pedoman kepada semua Kwartir-kwartir dalam usahanya untuk membentuk dan menyelenggarakan kegiatan Saka Wanabakti.

Pt.  2.   Ruang Lingkup

      Ruang Lingkup petunjuk penyelenggaraan ini meliputi:

a. Pendahuluan.

b. Pengertian, tujuan dan sasaran.

c. Organisasi

d. Lambang.

e. Keanggotaan.

f. Kegiatan

g. Lain-lain

h. Penutup

BAB        II

PENGERTIAN, TUJUAN DAN SASARAN

Pt. 3.    Pengertian

a.       Satuan Karya Pramuka disingkat Saka adalah wadah pendidikan guna menyalurkan minat, mengembangkan bakat dan meningkatkan pengetahuan, kemampuan, keterampilan, dan pengalaman para Pramuka dalam berbagai bidang kejuruan, serta memotivasi mereka untuk melaksanakan kegiatan nyata dan produktif sehingga dapat memberi bekal bagi kehidupannya, serta bekal pengabdiannya kepada masyarakat, bangsa dan negara, sesuai dengan aspirasi pemuda Indonesia dan tuntutan perkembangan pembangunan dalam rangka peningkatan ketahanan nasional.

b.      Wana adalah suatu lapangan yang cukup luas, bertumbuhan kayu, bamboo dan/atau palem yang bersama-sama dengan tanahnya, beserta segala isinya baik berupa nabati maupun alam hewani, secara keseluruhan merupakan persekutuan hidup yang mempunyai kemampuan untuk memberikan manfaat-manfaat produksi, perlindungan dan manfaat-manfaat lainnya secara lestari.

c.       Wanabakti adalah kegiatan bakti yang berkaitan dengan masalah pelestarian sumberdaya alam dan lingkungan hidup.

d.      Saka Wanabakti adalah salah satu jenis Satuan Karya Pramuka tempat meningkatkan dan mengembangkan kepemimpinan, pengetahuan, pengalaman, keterampilan dan kecakapan para Pramuka Penegak dan Pandega, serta sabagai wadah penanaman rasa tanggungjawab terhadap pelestarian sumberdaya alam dan lingkungan hidup.

Pt. 4. Tujuan

Tujuan pembentukan Saka Wanabakti adalah untuk memberi wadah pendidikan di bidang Kehutanan kepada anggota Gerakan Pramuka terutama para Pramuka Penegak dan Pramuka Pandega, agar mereka dapat membantu, membina dan mengembangkan kegiatan pelestarian sumberdaya alam dan lingkungan hidup, melaksanakan secara nyata, produktif dan berguna bagi Pramuka Penegak dan Pandega sebagai baktinya terhadap pembangunan masyarakat, bangsa dan negara                      

Pt. 5. Sasaran

         Sasaran kegiatan Saka Wanabakti adalah agar para Pramuka Penegak dan Pramuka Pandega:

a.       Memiliki rasa cinta dan tanggungjawab terhadap hutan dengan segala isi dan kekayaan yang terkandung di dalamnya, serta kesadaran untuk memelihara dan melestarikanya.

b.      Memiliki tambahan pengetahuan, pengalaman, keterampilan dan kecakapan dibidang kehutanan yang dapat mengembangkan pribadinya.

c.       Memiliki pengetahuan dan keterampilan untuk menghadapi segala tantangan hidup dalam hutan dengan tetap memperhatikan  keamanan dan kelestarian hutan.

d.      Memiliki disiplin dan tanggungjawab yang lebih mantap untuk memelihara kelestarian sumberdaya alam dan lingkungan hidup.

e.       Mampu menyelenggarakan kegiatan-kegiatanSaka Wanabkti secara positif, berdayaguna dan tepat guna, sesuai dengan bakat dan minatnya sehingga berguna bagi pribadinya, masyarakat, bangsa dan Negara.

f.        Mampu menyebarluaskan pengetahuan, keterampilan dan kecakapannya kepada Pramuka Siaga dan Pramuka Penggalang serta anggota lainnya.

BAB   III

ORGANISASI

Pt. 6. Struktur Organisasi

a.       Pramuka Penegak dan Pramuka Pandega dari gugus-gugus depan yang mempunyai minat di bidang kehutan dihimpun untukmembentuk Saka Wanabakti

b.      Di tiap ranting di bentuk satu Saka Wanabakti putera dan satu Saka Wanabakti puteri secara terpisah, jumlah anggotanya tidak terbatas.

c.       Saka Wanabakti terdiri dari 4 Krida:

1) Krida Tata Wana

2) Krida Reksa Wana

3) Krida Bina Wana

4) Krida Guna Wana

d.  Tiap Krida Wanabakti baranggotakan 5 s/d 10 orang, sehingga dalam satu Saka Wanabakti dimungkinkan adanya beberapa jenis krida yanga sama.

e.  Krida Saka Wanabakti diberi nama sesuai dengan jenis kegiatannya, jika terdapat dua krida atau lebih yang sejenis krida itu diberi tambahan nomor urut, misalnya krida Tata Wana I, Krida Tata Wana II

f.   Saka Wanabakti puteri di bina oleh Pamong Saka puteri dan Saka Wanabakti putera oleh Pamong Saka putera serta dibantu oleh instruktur.

g.  Jumlah Pamong Saka di tiap Saka putera maupu pute1 sampai 3 orang yang dibantu oleh instruktur yang jumlahnya disesuaikan dengan kebutuhan.

h. Pengurus Saka disebut Dewan Saka terdiri dari Ketua, wakil Ketua, SekretarisI, II dan Bendahara.

i. Tiap Krida dipimpin dan dan dipimpin oleh seorang Pemimpin Krida dibantu seorang Wakil Pemimpin Krida.

j. Saka Wanabakti dipimpin dan dibina oleh Kwartir Ranting, dibantu oleh Dewan Kerja Penegak dan Pandega Ranting.

k. Latihan dan kegiatan Saka Wanabakti dilaksanakan di tingkat ranting dan cabang, sedang kegiatannya dapat pula dilaksanakan di tingkat daerah dan nasional.

Pt. 7. Pimpinan Saka Wanabakti

Dalam usaha meningkatkan pembinaan dan pengembangan Saka Wanabakti dibentuk Pimpinan Saka Wanabakti yang anggotanya terdiri dari unsur kwartir dan unsur Departemen Kehutanan serta unsur lainnya yang berminat dan ada kaitannya dengan Saka Wanabakti.

a.       Di tingkat nasional dibentuk Pimpinan Saka Wanabakti Nasional

b.      Di tingkat daerah dibentuk pimpinan Saka Wanabakti daerah

c.       Di tingkat cabang dibentuk pimpinan Saka Wana Bakti cabang.

BAB  IV

LAMBANG

Pt. 8. Bentuk

Lambang Saka Wanabakti berbentuk segilima sama sisi dengan panjang sisi 5 cm.

Pt. 9. Isi

Isi lambing Saka Wanabakti terdiri dari:

a.       Gambar Lambang Departemen Kehutanan

b.      Gambar Lambang Gerakan Pramuka

c.       Tulisan dengan huruf besar berbunyi SAKA WANABAKTI

Pt. 10. Warna

Warna Lambang Saka Wanabakti terdiri dari:

a.       Warna dasar coklat

b.      Warna gambar lambang Departemen Kehutanan hijau, biru, hitam

c.       Warna gambar lambang lambing Gerakan Pramuka kuning

d.      Warna tulisan hitam

Pt. 11. Arti kiasan lambang Saka Wanabakti

a.       Pohon hijau melambangkan hutan yang subur yang mempunyai berbagai fungsi dalam upaya konservasi sumberdaya alam dan lingkungan hidup.

b.      Pohon hitam melambangkan hutan yang produktif yang berfungsi sebagai sarana pendukung pembangunan nasional.

c.       Garis-garis lengkung biru melambangkan fungsi hutan sebagai pengatur tata air.

d.      Warna dasar coklat melambangkan tanah yang subur berkat adanya usaha konservasi tanah.

e.       Tunas kelapa kuning melambangkan kegemilangan generasi muda yang tergabung dalam Saka Wanabakti yang giat mendukung pembangunan hutan dan kehutanan serta pelestarian sumberdaya alam dan lingkungan hidup.

f.        Segilima melambangkan falsafah bangsa yaitu Pancasila yang merupakan azas tunggal bagi Saka Wanabakti.

g.       Keseluruhan lambing Saka Wanabakti ini mencerminkan anggota Satuan Karya Pramuka Wanabakti yang aktif membantu usaha pembangunan hutan dan kehutanan serta pelestarian sumberdaya alam dan lingkungan hidup guna mencapai masyarakat Indonesia yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.

BAB  V

KEANGGOTAAN

Pt. 12. Anggota

Anggota Saka Wanabakti terdiri dari:

a.       Pramuka Penegak dan Pramuka Pandega

b.      Pembina Pramuka sebagai Pamong Saka dan instruktur tetap.

c.       Pemuda calon anggota Gerakan Pramuka yang berusia 20 sampai 25 tahun.

Pt. 13. Peminat

Peminat Saka Wanabakti terdiri dari para Pramuka Siaga dan Pramuka Penggalang.

Pt. 14. Syarat anggota

a.       Membuat pernyataan tertulis secara sukarela untuk menjadi anggota Saka Wanabakti.

b.      Untuk calon anggota Gerakan Pramuka dan Pramuka Penegak, serta Pramuka Pandega, mendapat izin tertulis dari orang tua/wali, Pembina Satuan dan Pembina Gugusdepannya.

c.       Untuk Pamong Saka mendapat persetujuan dari Pembina Gugusdepannya dan telah mengikuti Kursus Pembina Pramuka tingkat Dasar.

d.      Instruktur Tetap memiliki pengetahuan, keterampilan, dan kecakapan di bidang Saka Wanabakti.

e.       Pamong Saka dan Instruktur Tetap, diangkat oleh Kwartir Cabang.

f.        Sehat jasmani dan rohani.

g.       Sanggup mentaati semua peraturan yang berlaku.

Pt. 11. Hak dan Kewajiban

a.       Anggota mempunyai hak suara, hak pilih dan hak mengikuti semua kegiatan Saka Wanabakti.

b.      Kewajiban anggota ialah :

1)      menjaga nama baik Gerakan Pramuka di Sakanya

2)      mengikuti dengan rajin semua kegiatan Sakanya

3)      menerapkan dan mengembangkan keterampilannya dalam kegiatan yang berguna bagi dirinya dan bagi masyarakat

4)      menyebarluaskan pengetahuan dan keterampilannya di bidang kehutanan kepada anggota Gerakan Pramuka di gugusdepan dalam rangka membantu pencapaian syarat kecakapan khusus (SKK)

5)      membayar iuran dan mentaati segala peraturan Sakanya.

c.       Pamong Saka mempunyai kewajiban untuk :

1)      Melaksanakan pembinaan dan mengembangkan Saka dengan sistem among, secara berdayaguna dan tepatguna dan penuh tanggungjawab

2)      Menjadi seorang kakak, pendamping, serta pembangkit semangat dan daya kreasi bagi anggota Sakanya

3)      meningkatkan secara terus menerus pengetahuan, pengalaman, kecakapan dan keterampilannya melalui pendidikan, terutama yang menyangkut bidang kegiatan Saka Wanabakti

4)      mengenal setiap anggota Saka beserta keluarganya mengenai kebutuhan, situasi dan kondisinya.

5)      mengadakan hubungan dan kerjasama yang baik dengan Mabiran, Mabisa, para Pamong Saka lainnya, para Instruktur Saka dan gugusdepan-gugusdepan tempat asal anggota Sakanya

6)      Pamong Saka bertanggungjawab kepada Kwarran.

d.      Instruktur mempunyai kewajiban:

1)      membantu Pamong Saka yang bersangkutan

2)      melaksanakan pendidikan dan kegiatan kesakaan menurut kridanya

3)      mengusulkan kepada Pembina Pramuka yang bersangkutan untuk memberi TKK kepada anggotanya yang telah memenuhi syarat SKK yang telah ditempuhnya.

e.       Pimpinan Saka Nasional, Daerah, dan Cabang mempunyai kewajiban:

1)      Memberi saran dan memikirkan kegiatan Saka Wanabakti kepada kwartir yang bersangkutan

2)      Mengusahakan fasilitas dan dana untuk kegiatan Saka Wanabakti baik untuk pendidikan maupun kegiatan operasional.

BAB  VI

KEGIATAN

Pt. 16. Untuk memperoleh keterampilan di bidang kehutanan sehingga memiliki sikap dan perilaku sesuai dengan tujuan Gerakan Pramuka, Saka Wanabakti mengadakan kegiatan yang meliputi :

a.       Bidang Kehutanan secara umum yang menunjang program  pembangunan nasional dibidang kehutanan.

b.      Bidang kegiatan kehutanan yang dituangkan dalam jenis krida.

c.       Bakti kepada masyarakat dalam rangka pelestarian sumberdaya alam dan lingkungan hidup khususnya pelestarian hutan, tanah dan air.

Pt. 17. Kegiatan Saka Wanabakti dapat berbentuk:

a.       Latihan rutin, yang dilaksanakan di luar hari latihan gugusdepannya.

b.      Perkemahan bakti dan kegiatan bakti lainnya sesuai dengan program operasionalnya.

c.       Lomba pelestarian lingkungan hidup di daerah maupun di tingkat nasional.

d.      Lintas alam dalam bentuk pendakian gunung, penjelajahan hutan dan daerah aliraan sungai.

e.       Survei dan penelitian.

f.        Prestasipelaksanaan kegiatan Sakan Wanabakti dinyatakan dengan memberikan TKK yang akan di atur dalam petunjuk terssendiri.

Pt. 18. Dalam melaksanakan semua kegiatan selalu menggunakan prinsip dasar metodik pendidikan kepramukaan dan berlandasakan pada system among.

Pt. 19. Setiap kegiatan harus didahului dengan pembuatan rencana dan di akhiri dengan membuat laporan, termasuk pertanggungjawaban keuangan.

BAB  VII

LAIN-LAIN

Pt, 20. Pengembangan

a.       Pelaksanaan kegiatan Saka Wanabakti dapat dikembangkan oleh Kwartir bearsama pimpinan Saka Wanabakti yang bersangkutan.

b.      Pengembangan tersebut tidak boleh bertentangan dengan ketentuan yang berlaku.

Pt. 21, Sarana dan perlengkapan

            Dalam mengembangkan Saka Wanabakti, Kwartir bersama pimpinan Saka Wanabakti supaya:

a.       Mengusahakan adanya tempat latihan dan alat perlengkapan yang diperlukan.

b.      Mengadakan hubungan kerjasama dengan organisasi dan badan yang bergerak di bidang kegutan, pelestarian lingkungan hidup, dan sumberdaya alam.

Pt. 22.  Pembiayaan

Dana  yang digunakan untuk membiayai kegiatan Saka Wanabakti diperoleh dari :

a.       Iuran anggota Saka Wanabakti, yang besarnya ditetapkan oleh musyawarah Saka setempat.

b.      Pimpinan Saka

c.       Sokongan dan bantuan dari masyarakat yang tidak mengikat.

d.      Lain-lain sumber yang tidak bertentangan dengan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Gerakan Pramuka serta peraturan perundang-undangan yang berlaku.

BAB  VIII 

PENUTUP

Pt. 23.  Hal-hal yang belum diatur dalam petunjuk penyelenggaraan ini akan diatur kemudian oleh Kwartir Nasional Gerakan Pramuka.

                                                                        Jakarta,   14 Januari 1984

                                                                        Ketua Kwartir Nasional,

                                                                        Letjen TNI (Purn) Mashudi

I. Pendahuluan

Pembangunan dan pembinaan kehutanan di Indonesiahanya dapat diwujudkan apabila segenap lapisan masyarakat memahami sedalam-dalamnya art dari manfaat hutan baik yang langsung maupun tidak, dengan bertitik tolak dari pendirian tersebut maka pembinaan dan pelestarian hutan di Indonesia hanya mungkin tercapai apabila ditangani oleh manusia yang berdedikasi, terpercaya, cerdas tangkas, sehat serta memiliki panca indra yang tajam. Dengan modal tersebut maka pembagunan amanat pelestarian hutan akan mempunyai inisiatif dan dapat diandalkan untuk meneruskan estapet pembangunan kehutanan di Indonesia. Dengan penuh kesadaran atas misi tersebut, maka pimpinan departemen kehutanan sejak dini telah mengambil langkah positif menanamkan rasa cinta hutan serta menggugah masyarakat agar aktif berperanserta untuk memelihara dan melestarikan sumber daya alam yaitu hutan kita yang tak ternilai harganya. Guna melaksanakan tugas tersebut Pimpinan Departemen Kehutanan telah meningkatkan mitra sejajar dengan Kwartie Nasional Gerakan Pramuka. Usaha tersebut diawali dengan penandatangan Piagam Kerjasama antara Departemen Kehutnan dengan Kwartir Nasional Gerakan Pramuka, pada tanggal 27 Oktober 1983 dan disusul dengan pembentukan Satuan Karya Pramuka Wanabakti yang lebih dikenal dengan Saka Wanabakti pada tanggal 10 Desember 1983 dengan keputusan Kwarnas Gerakan Pramuka No. 134 Tahun 1983. sedangkan penetapan dan pelantikan Pimpinan Saka Wanabakti dilakukan oleh Wakil Presiden Republik Indonesia Bpk Umar Wirahadikusumah pada tanggal 19 Desember 1983 pada kesempatan Upacara Pekan Penghijauan Nasional di Desa Pid Pid Bali.

II. Pengertian Dan Kegiatan Saka Wanabakti

Satuan Karya Pramuka Wanabakti adalah salah satu jenis Satuan Karya Pramuka yang merupakan wadah pendidikan bidang kehutanan bagi anggota Gerakan Pramuka agar mereka dapat membantu, membina dan mengembangkan kegiatan pelestarian sumber daya alam dan ligkungan hidup sebagai baktinya terhadap pembangunan masyarakat, bangsa dan Negara.

Adapun ruang lingkup kegiatannya adalah:

  1. Bidang kehutan secara umum yang menunjang program pembangunan nasional dibidang kehutanan.
  2. Bidang kehutanan yang dituangkan dalam jenis Krida.
  3. Bakti kepada masyarakat dalam rangka pelestarian hutan, tanah dan air.

              Guna memperlancar alih keterampilan dalam pembinaan Kepramukaan khususnya bidang kehutanan, maka dibagi dalam 4 (empat) krida, dimana semua kegiatannya merupakan syarat Tanda Kecakapan Khusus (TKK), yang telah ditetapkan dengan Keputusan Kwartir Nasional Gerakan Pramuka No. 155 Tahun 1984, yaitu :

  • Tata Wana, meliputi kegiatan Perisalahan Hutan, Pengindraan Jarak Jauh dan pengukuran.
  •  Guna Wana, meliputi kegiatan Pencacahan Pohon, Pengukuran Kayu, Pengolahan Kayu gergajian, Pengrajin Hasil Hutan dan Pengolahan kayu lapis.
  • Bina Wana meliputi kegiatan Konservasi tanah, Reboisasi dan Penghijauan.
  • Reksa Wana meliputi kegiatan-kegiatan pengenalan Ekosistem, Pemandu Wisata, Pengenalan Tumbuhan dan Satwa, Pemandu Gunung serta Perlindunan dan Pengamanan Hutan.

III. Batasan Pengertian

         Agar ada keseragaman didalam pengertian dan pengunaan istilah maka perlu adanya batasan akan pengertian terhadap beberapa istilah, maka perlu adanya batasan akan pengertian terhadap beberapa istilah.

  1. Hutan adalah suatu lapangan pertumbuhan pohon-pohon yang secara keseluruhan merupakan persekutuan hidup alam hayati beserta alam lingkungannya dan yang ditetapkan oleh pemerintah sebagai hutan.
  2. Kehutanan adalah sutau rangkaian kegiatan yang dilakukan berdasarkan ilmu pengetahuan dan pengalaman dengan sasaran untuk menjamin dan meningkatkan manfaatnya secra lestari. Rangkaian kegiatan ini antara lain : Penataan Hutan, Penanaman, Pemeliharaan, Pengawasan, Pemungutan hasil Hutan, Pengelolaan, Pemasaran hasil Hutan, Pendidikan dan penelitian.
  3. Ekosostem adalah tatanan kesatuan secara utuh, menyeluruh antara segenap unsur lingkungan hidup yang saling mempengaruhi.
  4. Lingkungan Hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya keadaan dan mahluk hidup, termasuk didalamnya manusia dan perilakunya yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta mahluk hidup lainnya.
  5. Konservasi Sumber daya alam adalah Pengelolaan sumber daya alam yang menjamin pemanfaatan secara bijaksana dan bagi sumberdaya alam terbaharui yang menjamin kesinambungan persediaannya dengan tahap memelihara dan meningkatkan kualitas nilai dan keanekaragamannya.
  6.  Kader Konservasi adalah orang/kelompok yang telah ditetapkan sebagai penerus upaya konservasi yang memiliki kesadaran dan memiliki ilmu pengetahuan tentang konservasi tentang konservasi serta bersedia dan mampu menyampaikan pesan konservasi kepada masyarakat.
  7. Masyarakat pencinta alam adalah masyarakat yang anggota-anggotanya telah menyadari, melaksanakan dan mengamalkan upaya konservasi sumber daya alam dan lingkungan hidup.
  8. Sumber daya alam adalah salah satu unsure lingkuangan hidup yang terdiri dari sumber daya alam hayati dan sumber daya alam non hayati.

IV. Pola Pembinaan Saka Wanabakti

         Saka Wnabakti yang profesi kegiatannya bergerak dalam bidang kehutanan, yang merupakan suatu ilmu, seni dan praktek mengelola dan memanfaatkan sumber daya alam yang terdapat pada lahan, untuk kepentingan manusia, maka dalam pembinaanya khususnya di Kwartir Ranting Banjaran, Cangkuang, Soreang dan Ciwidey dilaksanakan di kantor Asper Banjaran. Hal ini dilakukan mengingat keterbatasan Instruktur yang menguasai bidang tehnik kehutanan. Mengingat pentingnya upaya menyadarkan masyarakat dalam usaha pelestarian sumber daya alam dan lingkungan hidup, hususnya pelestarian sumber daya hutan, tanah dan air maka diperlukan program yan jelas dan terarah dalam pola pembinaan saka Wanabakti di wilayah Bandung Selatan. Dengan berorientasi kepada hal tersebut maka dalam setiap melaksanakan pendidikan dan latihan Saka Wanabakti untuk kepengurusan yang sekarang diharapkan dilakukan perbaikan-perbaikan, baik Kurikulum, Materi, Waktu dan praktek Lapangan.

V. Masalah Yang Dihadapi

  1. Tidak adanya program kerja Dewan Saka yang berkesinambungan sehingga setelah selesai proses pendidikan dan latihan anggota baru (Diklat) kegiatan terhenti sampai Diklat mendatang.
  2. Kurang kepedulian dari sebagian anggota senior untuk mengarahkan anggota yuniornya.
  3. Kurangnya pembekalan materi kehutan dari tiap-tiap anggota dikerenakan program yang tidak ada/ tidak dilaksanakan.

VI. Penutup

        Tidaklah berlebihan apabila dikatakan bahwa manusia dalam kehidupannya tidak dapat dipisahkan kayu dan hasil hutan lainnya. Mulai dari pensil untuk menulis diatas lembaran kertas, hingga rumah tempat tempat tinggalnya. Dari jendela dapat melihat pemandangan disekitarnya berupa pepohonan yang hijau, yang melindungi dari teriknya panas matahari dan hembusan angin. Demikian Tuhan telah menciptakan dan mengkaruniai manusia dibumi dengan selimut hijau yang disebut hutan

@RaMa ShaNida

Jaduul… Visund eeuuy..

 JADUL BANGEUUUT…

Masa-masa bersama dalam kegiatan  regenerasi angkatan ke 2 yang berlokasi di Gunung Puntang Kabupaten Bandung Jawa Barat

Indahnya kebersamaan Senior dan Junior

Semoga Tali silaturahmi antara Kita tetap terjaga slamanya … Amiin..

Maju terus SAKA WANABAKTI BKPH BANJARAN

 

Satuan Karya (saka)
satuan Karya atau di singkat saka merupakan istilah dalam kepramukaan, baik di tingkat penggalang atau di tingkat penegak atau pandega
satuan karya di bentuk untuk mempelajari secara mendalam bagian bagian yang mempunyai andil besar di Indonesia,

sebut saja satuan karya wanabakti satuan karya ini mempelajari secara mendalam tentang berbagai macam hubungan dengan hutan satuan karya bahari mempelajari tentang kelautan satuan karya bhayangkara, mempelajari tentang tata tertib kehidupan yang dinaungi oleh Kepolisian. ada juga saka saka lain, seperti saka dirgantara yang mempelajari tentang nautika dan ada saka bakti husada yang mempelajari tentang kesehatan banyak manfaatnya ketika kita mengikuti sebuah kegiatan kesakaan, kita didorong untuk memahami kekayaan indonesia secara formal dan komplit bagi anak anak pramuka, seharusnya mempunyai dan berkeinginan untuk memahami lebih dalam tentang kekayaan alam indonesia, salah satunya dengan mengikuti kegiatan saka

Saka Wanabakti
Saka wanabakti merupakan sebuah satuan karya yang berada di bawah naungan departemen kehutanan, wilayah Indonesia yang kaya akan hutan setikdanya harus lebih diajarkan kepada generasi muda sebagai penerus untuk mengolah dan mengelola kekayaan alam agar tidak di ekploitasi sewenang wenang.
Saka Wanabakti merupakan jembatan pengenalan tentang kehutanan Indonesia kepada para pelajar, harapan diadakannya Saka Wanabakti adalah seperti itu.
orang orang perkotaan yang sedikit akan hutannya sedikit sekali tentang pembelajaran tentang hutan Indonesia, akan tetapi kesadaran akan kebutuhan hutan orang kota lebih menyadarinya, kenapa? kehidupan yang pengap seolah oleh membawa kesadaran tersendiri akan buthnya suasana yang adem ayem dan sejuk. bukan berarti mengesampingkan orang yang berada diluar perkotaan, karena orang pedesaan pada umumnya menikmati suasana yang alami setiap hari sehingga terkadang terlena, penebangan liar oleh para penduduk setempat merupakan ciri dari kurang perhatiannya.
saka wanabakti mengemban misi yang berat sesungguhnya yaitu menjelaskan dan menanamkan kepada generasi muda bahwa alam itu sangat penting untuk dikelola dan dilestarikan.

“ikut bergabung dengan saka wanabakti berarti sudah ikut berpartisipasi minimal mengenal tentang keadaan hutan yang ada di sekeliling kita”

Krida Saka Wanabakti
Saka wanabakti mempunyai Krida Drida, Krida adalah semacam tanda dan pengelonpokan keterampilan dalam pramuka untuk memperdalam sebuah materi,

Krida adalah : Satuan terkecil yang merupakan bagaian Saka Wanabakti sebagai wadah kegiatan ketrampilan tertentu yang merupakan bagian dari kegiatan saka.

adapun Krida – krida yang ada di saka wanabakti ada empat krida, diantara krida krida itu adalah

1. Krida BinaWana
merupakan krida yang mempelajari semua yang berhubungan dengan pembinaan pelestarian hutan.
2. Krida Tata Wana
krida tatawana, Tata berarti menata atau mengatur,wana berarti hutan jadi tata wana nempunyai arti menata / mengatur kawasan hutan dan merisalah isinya.
3. Krida Guna Wana
krida Guna berarti memanfaatkan wana berarti hutan jadi Guna Wana berarti memanfaatkan hasil hutan secara produktif dan lestari.
4. Krida Reksa Wana
krida Reksa berarti melindungi wana berarti hutan jadi Reksa Wana berarti kegiatan yang berhubungan dengan perlindungan hutan.

%d blogger menyukai ini: