I. Pendahuluan

Pembangunan dan pembinaan kehutanan di Indonesiahanya dapat diwujudkan apabila segenap lapisan masyarakat memahami sedalam-dalamnya art dari manfaat hutan baik yang langsung maupun tidak, dengan bertitik tolak dari pendirian tersebut maka pembinaan dan pelestarian hutan di Indonesia hanya mungkin tercapai apabila ditangani oleh manusia yang berdedikasi, terpercaya, cerdas tangkas, sehat serta memiliki panca indra yang tajam. Dengan modal tersebut maka pembagunan amanat pelestarian hutan akan mempunyai inisiatif dan dapat diandalkan untuk meneruskan estapet pembangunan kehutanan di Indonesia. Dengan penuh kesadaran atas misi tersebut, maka pimpinan departemen kehutanan sejak dini telah mengambil langkah positif menanamkan rasa cinta hutan serta menggugah masyarakat agar aktif berperanserta untuk memelihara dan melestarikan sumber daya alam yaitu hutan kita yang tak ternilai harganya. Guna melaksanakan tugas tersebut Pimpinan Departemen Kehutanan telah meningkatkan mitra sejajar dengan Kwartie Nasional Gerakan Pramuka. Usaha tersebut diawali dengan penandatangan Piagam Kerjasama antara Departemen Kehutnan dengan Kwartir Nasional Gerakan Pramuka, pada tanggal 27 Oktober 1983 dan disusul dengan pembentukan Satuan Karya Pramuka Wanabakti yang lebih dikenal dengan Saka Wanabakti pada tanggal 10 Desember 1983 dengan keputusan Kwarnas Gerakan Pramuka No. 134 Tahun 1983. sedangkan penetapan dan pelantikan Pimpinan Saka Wanabakti dilakukan oleh Wakil Presiden Republik Indonesia Bpk Umar Wirahadikusumah pada tanggal 19 Desember 1983 pada kesempatan Upacara Pekan Penghijauan Nasional di Desa Pid Pid Bali.

II. Pengertian Dan Kegiatan Saka Wanabakti

Satuan Karya Pramuka Wanabakti adalah salah satu jenis Satuan Karya Pramuka yang merupakan wadah pendidikan bidang kehutanan bagi anggota Gerakan Pramuka agar mereka dapat membantu, membina dan mengembangkan kegiatan pelestarian sumber daya alam dan ligkungan hidup sebagai baktinya terhadap pembangunan masyarakat, bangsa dan Negara.

Adapun ruang lingkup kegiatannya adalah:

  1. Bidang kehutan secara umum yang menunjang program pembangunan nasional dibidang kehutanan.
  2. Bidang kehutanan yang dituangkan dalam jenis Krida.
  3. Bakti kepada masyarakat dalam rangka pelestarian hutan, tanah dan air.

              Guna memperlancar alih keterampilan dalam pembinaan Kepramukaan khususnya bidang kehutanan, maka dibagi dalam 4 (empat) krida, dimana semua kegiatannya merupakan syarat Tanda Kecakapan Khusus (TKK), yang telah ditetapkan dengan Keputusan Kwartir Nasional Gerakan Pramuka No. 155 Tahun 1984, yaitu :

  • Tata Wana, meliputi kegiatan Perisalahan Hutan, Pengindraan Jarak Jauh dan pengukuran.
  •  Guna Wana, meliputi kegiatan Pencacahan Pohon, Pengukuran Kayu, Pengolahan Kayu gergajian, Pengrajin Hasil Hutan dan Pengolahan kayu lapis.
  • Bina Wana meliputi kegiatan Konservasi tanah, Reboisasi dan Penghijauan.
  • Reksa Wana meliputi kegiatan-kegiatan pengenalan Ekosistem, Pemandu Wisata, Pengenalan Tumbuhan dan Satwa, Pemandu Gunung serta Perlindunan dan Pengamanan Hutan.

III. Batasan Pengertian

         Agar ada keseragaman didalam pengertian dan pengunaan istilah maka perlu adanya batasan akan pengertian terhadap beberapa istilah, maka perlu adanya batasan akan pengertian terhadap beberapa istilah.

  1. Hutan adalah suatu lapangan pertumbuhan pohon-pohon yang secara keseluruhan merupakan persekutuan hidup alam hayati beserta alam lingkungannya dan yang ditetapkan oleh pemerintah sebagai hutan.
  2. Kehutanan adalah sutau rangkaian kegiatan yang dilakukan berdasarkan ilmu pengetahuan dan pengalaman dengan sasaran untuk menjamin dan meningkatkan manfaatnya secra lestari. Rangkaian kegiatan ini antara lain : Penataan Hutan, Penanaman, Pemeliharaan, Pengawasan, Pemungutan hasil Hutan, Pengelolaan, Pemasaran hasil Hutan, Pendidikan dan penelitian.
  3. Ekosostem adalah tatanan kesatuan secara utuh, menyeluruh antara segenap unsur lingkungan hidup yang saling mempengaruhi.
  4. Lingkungan Hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya keadaan dan mahluk hidup, termasuk didalamnya manusia dan perilakunya yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta mahluk hidup lainnya.
  5. Konservasi Sumber daya alam adalah Pengelolaan sumber daya alam yang menjamin pemanfaatan secara bijaksana dan bagi sumberdaya alam terbaharui yang menjamin kesinambungan persediaannya dengan tahap memelihara dan meningkatkan kualitas nilai dan keanekaragamannya.
  6.  Kader Konservasi adalah orang/kelompok yang telah ditetapkan sebagai penerus upaya konservasi yang memiliki kesadaran dan memiliki ilmu pengetahuan tentang konservasi tentang konservasi serta bersedia dan mampu menyampaikan pesan konservasi kepada masyarakat.
  7. Masyarakat pencinta alam adalah masyarakat yang anggota-anggotanya telah menyadari, melaksanakan dan mengamalkan upaya konservasi sumber daya alam dan lingkungan hidup.
  8. Sumber daya alam adalah salah satu unsure lingkuangan hidup yang terdiri dari sumber daya alam hayati dan sumber daya alam non hayati.

IV. Pola Pembinaan Saka Wanabakti

         Saka Wnabakti yang profesi kegiatannya bergerak dalam bidang kehutanan, yang merupakan suatu ilmu, seni dan praktek mengelola dan memanfaatkan sumber daya alam yang terdapat pada lahan, untuk kepentingan manusia, maka dalam pembinaanya khususnya di Kwartir Ranting Banjaran, Cangkuang, Soreang dan Ciwidey dilaksanakan di kantor Asper Banjaran. Hal ini dilakukan mengingat keterbatasan Instruktur yang menguasai bidang tehnik kehutanan. Mengingat pentingnya upaya menyadarkan masyarakat dalam usaha pelestarian sumber daya alam dan lingkungan hidup, hususnya pelestarian sumber daya hutan, tanah dan air maka diperlukan program yan jelas dan terarah dalam pola pembinaan saka Wanabakti di wilayah Bandung Selatan. Dengan berorientasi kepada hal tersebut maka dalam setiap melaksanakan pendidikan dan latihan Saka Wanabakti untuk kepengurusan yang sekarang diharapkan dilakukan perbaikan-perbaikan, baik Kurikulum, Materi, Waktu dan praktek Lapangan.

V. Masalah Yang Dihadapi

  1. Tidak adanya program kerja Dewan Saka yang berkesinambungan sehingga setelah selesai proses pendidikan dan latihan anggota baru (Diklat) kegiatan terhenti sampai Diklat mendatang.
  2. Kurang kepedulian dari sebagian anggota senior untuk mengarahkan anggota yuniornya.
  3. Kurangnya pembekalan materi kehutan dari tiap-tiap anggota dikerenakan program yang tidak ada/ tidak dilaksanakan.

VI. Penutup

        Tidaklah berlebihan apabila dikatakan bahwa manusia dalam kehidupannya tidak dapat dipisahkan kayu dan hasil hutan lainnya. Mulai dari pensil untuk menulis diatas lembaran kertas, hingga rumah tempat tempat tinggalnya. Dari jendela dapat melihat pemandangan disekitarnya berupa pepohonan yang hijau, yang melindungi dari teriknya panas matahari dan hembusan angin. Demikian Tuhan telah menciptakan dan mengkaruniai manusia dibumi dengan selimut hijau yang disebut hutan

@RaMa ShaNida